Indonesiakah St Moritz?
Gugatan Terbuka Untuk Petinggi Negeri Ini
Mendengar sebuah mega proyek bernama St Moritz, decak kagum saya seraya saat itu juga ini pasti akan banyak sekali menyerap lapangan kerja, karena pasti akan sangat Padat Modal sekaligus juga tentunya akan sangat padat karya. Seandainya kita—atau proyek itu di Indonesia? Dan sayapun mengira itu sebuah baliho besar iklan property di negara luar sana, maklum saya membaca sekilas saja ketika harus juga berkendara.
Seperti judul diatas diatas Indonesiakah St. Moritz? YA, ternyata ia tak jauh dari rumah saya, masih dibilangan Jakarta Barat yang setiap harinya saya lewati, karena harus menunggangi jalan Tol Tangerang-Tomang untuk sampai ke tempat saya beraktivitas seperti biasanya.
Seketika itu juga timbul kekecewaan saya, bahwa kenapa harus memakai idiom asing? setidaknya bahasa Indonesia serta Bangsa Indonesia ini kaya dengan khasanah-khasanah yang ”berbau” Indonesia. Kenapa tidak terpikir Bang Pitung Penthouse & Residence?
Bukankah Pitung adalah Icon perjuangan rakyat Jakarta? Selain mengenalkan kembali kepada anak dan cucu kita, bahwa once upon a time ada legenda perjuangan melawan penjajahan Belanda juga kalau anda buat situsnya nama Bang Pitung itu saja sudah mendistribusikan khasanah ke-Indonesiaan untuk mendunia, kapan lagi Indonesia dan KeIndonesiaan melegenda sekaligus mendunia.
Pasti tidak lama dari itu akan muncul sebuah sinema yang mereproduksi film yang pernah di Bintangi oleh Artis Besar Indonesia Almarhum Dicky Zulkarnaen. Dan bukan tidak mungkin filmnya meledak dan tidak lama dari itu akan muncul berbagai anasir sosial dan budaya yang berimplikasi pada ranah ekonomi.
Meng-Indonesiakan Indonesia
Ada sebuah film laga aksi dari Thailand bertitle GARUDA, saya tercengang oh ya, kok bisa? Itukan bahasa kita kok bisa-bisanya dipake orang Muang-Thai. Sejurus kemudian saya tersadar belum ada satupun sinema Indonesia yang memakai kosa kata GARUDA. Lambang negara ini yang kita banggakan ini dan memiliki prestise ”kesaktian” dan tingkat kanuraga’an yang mumpuni dalam setiap nilainya. Sehingga tidak mengherankan Ia bisa diangkat menjadi sebuah title sinema yang diproduksi teman kita serumpun di Thailand sana.
Dan kawan kita serumpun tersebut ternyata jauh lebih jeli, karena mereka sangat sadar untuk memenangkan pertarungan Global ini kita sejauh mungkin memperbesar jejaring sambil menginventori apa saja khasanah yang bisa di klaim sebagai kekayaan mereka.Kita tentu sangat paham apa arti klaim tadidan implikasi ekonominya.
Mereka membenamkan peperangan besar bernama globalisasi justru dengan mengartikulasi klaim idiom-idiom, ini sama persis dengan kasus rasa sayang-sayange. Tak becusnya kita menggali kekayaan kultural warisan nenek moyang justru segera di pelihara dengan baik dan bernilai sangat profetisnya justru oleh ”kawan serumpun”
Serta memasukan kedalam jejaring komunikasi pencitraan tadi artikulasi Idiom yang mampu mengangkat citra KeIndonesiaan. Bukan saja itu melainkan juga mereklamasi prestasi para leluhur kita setingkat Maha Patih Gajah Mada, yang mampu mengukirkan penguasaan hingga sebagian filipina dengan sumpah palapa-nya, untung saja Soeharto sudah memakai Palapa sebagai nama satelit kita, karena jika kalah cepat bukan tidak mungkin jadi nama PLTN pertama di LAOS.
Seraya saya juga mengingatkan ada sebuah mega proyek di seputaran Jakarta ini yang menggelikan menurut nalar KeIndonesiaan saya, pertanyaannya sedehana saja dimanakah anasir KeIndonesiaan yang bisa kita letakkan?
Jujurnya saya mengguggat proyek-proyek seperti dan sebesar St Moritz yang justru tidak memakai sama sekali atribut dan unsur KeIndonesiaan kalau boleh tidak menggantinya dengan kata menghilangkan, kita boleh modern tanpa meninggalkan sejengkalpun keluhuran nilai budi dan pekerti lokal. Kita boleh tinggal landas dan memacu adenalin pembangunan namun teramat sayang meninggalkan lokalitas yang justru menjadi kekayaan dan modal kultural kita.
Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya kita 100 tahun lagi ketika anak-anak cucu kita sudah sangat familiar dengan grammar english, dan lupa dengan kosakata Bahasa, bahwa ada keunikan dan keluhuran yang bergitu bernilainya dari ke-Indonesiaan, ironisnya elo-elo pada tauk ga? yang bahkan Elo dan gue udah di adopsi abis, oleh tetangga serumpun. Jangan-jangan kita akan sekedar menjadi pasien rumah sakit korban lelaki, dan mendapat piala pusingan ketertinggalan budaya sekaligus ekonomi di abad mendatang. Sementara nyang punya kite dicomot tetangga, terus nyang kite pake malah kita mesti import.
Bagaimana mungkin anda bisa menduniakan Indonesia kalau anda tidak berupaya untuk meng-Indonesiakan Indonesia. Ini sebuah momentum sangat serius, dan sekali lagi ini juga menjadi cambuk menjadi paradigma kita sebagai bangsa yang bangga dengan sejarah, khasanah dan dirinya sendiri. Bukan sekedar meminjam milik bangsa lain. Apalagi itu sampai bernilai ekonomi yang tinggi, setidaknya dampak dan urutan komoditi budaya sebagai efek sampingnya saja sudah membuat lapangan kerja, apalagi proyeknya sendiri. Bukan begitu?
Pesan saya untuk para pejabat dan pemimpin negeri ini, mari tidak lengah menjaga dan mempertahankan kekayaan kita, satu-satunya cara bertahan paling ampuh adalah menyerang, maka seranglah pasar global dengan khasanah-khasanah kekayaan budaya kita. Mumpung sedang di galakkannya Tahun ekonomi kreatif, maka alangkah kecolongannya bila dari sisi budaya kita justru melakukan pembiaran anasir asing menguasai environment bangsa kita sendiri. AYO KITA BISA MengIndonesiakan INDONESIA.
Mohammad Hamdan
Penulis adalah pemerhati INDONESIA SOFT POWER Studies.
Fs/blogs : senatormudabanten@yahoo.com0818719069
0 Responses to “Indonesiakah St Moritz?”
Leave a Reply